Masalah
Kesehatan dan farmasi tidak hanya menjadi monopoli Rumah Sakit saja.
Apalagi biaya berobat di Rumah Sakit kini kian hari semakin melangit.
Tidak heran jika banyak orang mulai mencari pelbagai alternatif lain
demi kesehatan dan dapat sembuh dari sakit.
Melihat peluang tersebut, Syaeroji meluncurkan Labeur Jahe, jahe merah instant hasil racikannya sendiri, ke pasar tahun 2005 silam. Istimewanya, jahe merah instan racikan Syaeroji terdiri dari bahan rempah tumbuhan seperti jahe merah, mahkota dewa, dan gula aren, serta tanpa bahan kimia dan pengawet. "Produk ini memakai bahan dasar dari rempah yang dipercaya sebagai obat, jadi aman dan tanpa efek samping," kata Syaeroji yang akrab dipanggil Oji ini.
Oji mengatakan Labeur jahe berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti rematik, asam urat, persendian, sesak nafas, flu, melancarkan peredaran darah, serta dapat menambah stamina dan gairah.
Sejatinya, Oji telah memulai usahanya tahun 1996 lalu. Namun, kala itu dia belum mencoba peruntungan di usaha racikan jahe merah ini. Awalnya, Oji hanya menjual gula aren, gula semut, gula merah, madu, dan emping melinjo saja.
Seiring berjalannya waktu, kata Oji, semakin banyak konsumen yang menanyakan tentang jahe merah instan. Oji lantas mencoba meracik sendiri jahe merah dengan ditambah mahkota dewa yang berkhasiat sebagai obat. Tak dinyana, baru sebentar diluncurkan ke pasar peminatnya hingga ke pelosok negeri dan mancanegara. Dalam sekejap, Labeur jahe menjadi primadona diantara produk Oji yang lainnya.
Pada awalnya Oji melakukan pemasaran dengan cara tradisional, yakni dengan cara menyebarkan informasi dari mulut ke mulut. Kini, Oji memiliki kantor pusat pemasaran di tempat asalnya, di Banten. Dia juga memiliki 32 reseller atau agen di beberapa kota seluruh Indonesia, seperti di Jakarta, Tangerang, Ciledug, Palembang, Bandung, Bekasi, Lampung, Bandung, Bogor, Serang, Padang, Ambon, Cilegon, Bali, Pandeglang, Lampung. "Dengan adanya agen, konsumen menjadi lebih mudah untuk melakukan pemesanan. Kita juga melayani pesanan antar untuk pesanan lebih dari 50 unit," kata Oji.
Sedangkan untuk menggaet pasar mancanegara, Oji memanfaatkan dunia maya dengan membuat website Labeur Jahe (www.labeurjahe.com). Sekarang Oji dapat menuai hasilnya. Pesanan mengalir setiap bulannya dari Belanda dan Malaysia. Tidak kurang dari 3.000 toples jahe merah dikirim ke kedua negara tersebut.
Modal sedikit untung berlipat
Usaha ini tidak membutuhkan banyak investasi. Awalnya, Oji hanya membutuhkan Rp 5 juta untuk produksi awal jahe merah instan ini. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan modal tersebut telah balik. Dan bulan berikutnya, Oji telah dapat menikmati untung. Kini, dalam satu bulan Oji mengaku bisa meraih pendapatan Rp 350 juta. Sekarang, Oji mengatakan membutuhkan modal Rp 50 juta untuk produksi jahe merah. Modal itu selain untuk memenuhi pesanan dari pelanggan tetap, juga sebagai cadangan produk.
Untuk pemesanan kurang dari 5 toples isi 350 gram, Oji mematok harga Labeur jahe Rp 25.000 per toples. Sedangkan untuk pemesanan lebih dari 5 toples, pelanggan hanya perlu membayar Rp 20.000 per toples. Labeur jahe juga diproduksi secara sachet. Satu renceng berisi 5 sachet dijual dengan harga Rp 15.000 per renceng.
Selama ini, Oji tidak pernah menggunakan dana pinjaman dari bank untuk kepentingan investasinya. Modal usaha didapatnya dari kas internal usahanya. Pasalnya, menurut Oji, suku bunga bank terlalu tinggi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah sepertinya. Dia menilai jauh lebih efektif menggunakan kas hasil keuntungan usaha sebelumnya dibanding harus meminjam dari bank yang harus dikembalikan dengan tambahan bunga berlipat. "Lebih baik pakai apa yang ada saja untuk modal. Kalau pinjam bank berat, harus mengembalikan tiap bulan plus bunga," kata Oji. (11 Agustus 2008)
Melihat peluang tersebut, Syaeroji meluncurkan Labeur Jahe, jahe merah instant hasil racikannya sendiri, ke pasar tahun 2005 silam. Istimewanya, jahe merah instan racikan Syaeroji terdiri dari bahan rempah tumbuhan seperti jahe merah, mahkota dewa, dan gula aren, serta tanpa bahan kimia dan pengawet. "Produk ini memakai bahan dasar dari rempah yang dipercaya sebagai obat, jadi aman dan tanpa efek samping," kata Syaeroji yang akrab dipanggil Oji ini.
Oji mengatakan Labeur jahe berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti rematik, asam urat, persendian, sesak nafas, flu, melancarkan peredaran darah, serta dapat menambah stamina dan gairah.
Sejatinya, Oji telah memulai usahanya tahun 1996 lalu. Namun, kala itu dia belum mencoba peruntungan di usaha racikan jahe merah ini. Awalnya, Oji hanya menjual gula aren, gula semut, gula merah, madu, dan emping melinjo saja.
Seiring berjalannya waktu, kata Oji, semakin banyak konsumen yang menanyakan tentang jahe merah instan. Oji lantas mencoba meracik sendiri jahe merah dengan ditambah mahkota dewa yang berkhasiat sebagai obat. Tak dinyana, baru sebentar diluncurkan ke pasar peminatnya hingga ke pelosok negeri dan mancanegara. Dalam sekejap, Labeur jahe menjadi primadona diantara produk Oji yang lainnya.
Pada awalnya Oji melakukan pemasaran dengan cara tradisional, yakni dengan cara menyebarkan informasi dari mulut ke mulut. Kini, Oji memiliki kantor pusat pemasaran di tempat asalnya, di Banten. Dia juga memiliki 32 reseller atau agen di beberapa kota seluruh Indonesia, seperti di Jakarta, Tangerang, Ciledug, Palembang, Bandung, Bekasi, Lampung, Bandung, Bogor, Serang, Padang, Ambon, Cilegon, Bali, Pandeglang, Lampung. "Dengan adanya agen, konsumen menjadi lebih mudah untuk melakukan pemesanan. Kita juga melayani pesanan antar untuk pesanan lebih dari 50 unit," kata Oji.
Sedangkan untuk menggaet pasar mancanegara, Oji memanfaatkan dunia maya dengan membuat website Labeur Jahe (www.labeurjahe.com). Sekarang Oji dapat menuai hasilnya. Pesanan mengalir setiap bulannya dari Belanda dan Malaysia. Tidak kurang dari 3.000 toples jahe merah dikirim ke kedua negara tersebut.
Modal sedikit untung berlipat
Usaha ini tidak membutuhkan banyak investasi. Awalnya, Oji hanya membutuhkan Rp 5 juta untuk produksi awal jahe merah instan ini. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan modal tersebut telah balik. Dan bulan berikutnya, Oji telah dapat menikmati untung. Kini, dalam satu bulan Oji mengaku bisa meraih pendapatan Rp 350 juta. Sekarang, Oji mengatakan membutuhkan modal Rp 50 juta untuk produksi jahe merah. Modal itu selain untuk memenuhi pesanan dari pelanggan tetap, juga sebagai cadangan produk.
Untuk pemesanan kurang dari 5 toples isi 350 gram, Oji mematok harga Labeur jahe Rp 25.000 per toples. Sedangkan untuk pemesanan lebih dari 5 toples, pelanggan hanya perlu membayar Rp 20.000 per toples. Labeur jahe juga diproduksi secara sachet. Satu renceng berisi 5 sachet dijual dengan harga Rp 15.000 per renceng.
Selama ini, Oji tidak pernah menggunakan dana pinjaman dari bank untuk kepentingan investasinya. Modal usaha didapatnya dari kas internal usahanya. Pasalnya, menurut Oji, suku bunga bank terlalu tinggi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah sepertinya. Dia menilai jauh lebih efektif menggunakan kas hasil keuntungan usaha sebelumnya dibanding harus meminjam dari bank yang harus dikembalikan dengan tambahan bunga berlipat. "Lebih baik pakai apa yang ada saja untuk modal. Kalau pinjam bank berat, harus mengembalikan tiap bulan plus bunga," kata Oji. (11 Agustus 2008)
============================
Labeur Jahe
Jl. Raya Pandeglang Km.10
Sampay Watunggunung, Lebak
Provinsi Banten
Telp : 0812-9612704 /(0252) 206694
Labeur Jahe
Jl. Raya Pandeglang Km.10
Sampay Watunggunung, Lebak
Provinsi Banten
Telp : 0812-9612704 /(0252) 206694
Sumber :
17 Agustus 2009
Sumber Gambar:
Jahe dan Senyawa Antioksidannya
Morfologi Tumbuhan Jahe
Tanaman
jahe merupakan tanaman terna tahunan dengan batang semu yang tumbuh
tegak. Tingginya berkisar 0,3-0,75 meter dengan akar rimpang yang bisa
bertahan lama dalam tanah. Tanaman ini terdiri atas bagian akar, batang,
daun, dan bunga. Akar merupakan bagian terpenting dari tanaman jahe.
Pada bagian ini tumbuh tunastunas baru yang kelak akan menjadi tanaman.
Batang tanaman merupakan batang semu yang tumbuh tegak lurus. Batangnya
terdiri dari seludang-seludang daun tanaman dan pelepah-pelepah daun
yang menutupi daun. Daun jahe berbentuk lonjong dan lancip menyerupai
daun rumput yang besar. Daun itu sebelahmenyebelah berselingan dengan
tulang daun sejajar sebagaimana tanaman monokotil yang lainnya.
Jahe
dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan ukuran, bentuk, dan
warna rimpangnya, yaitu jahe putih atau jahe kuning besar, jahe putih
kecil, dan jahe merah. Berdasarkan warna rimpang dikenal adanya jahe
putih, jahe kuning, dan jahe merah. Dari segi bentuknya digolongkan
menjadi jahe besar (jahe bedak) dan jahe kecil. Untuk penelitian ini
digunakan jahe kecil (emprit).
Komposisi Kimia Jahe
Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil), minyak tak menguap (non-volatile oil), dan pati. Minyak menguap yang biasa disebut minyak atsiri merupakan komponen pemberi bau yang khas, sedangkan minyak yang tak menguap
yang biasa disebut oleoresi merupakan komponen pemberi rasa pedas dan
pahit. Komponen yang terdiri dari oleoresin merupakan gambaran utuh dari
kandungan jahe, yaitu minyak atsiri dan fixed oil yang terdiri dari zingerol, shogaol, dan resin (Paimin dan Murhananto, 1991).
Kandungan
minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1-3 %. Komponen utama minyak
atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Oleoresin jahe banyak mengandung komponen – komponen non volatil yang
mempunyai titik didih lebih tinggi daripada komponen volatil minyak
atsiri. Oleoresin tersebut mengandung komponen – komponen pemberi rasa
pedas yaitu gingerol sebagai komponen utama serta shagaol dan zingeron
dalam jumlahsedikit. Kandungan oleoresin jahe segar berkisar antara 0,4 –
3,1 persen.
Menurut Wijayakusuma (2004), kandungan kimia jahe antara lain : asetates, bisabolene, caprilate, d-รข-phallandrene,
d-camphene, d-borneol, farnisol, kurkumin, khavinol, linalool, metil
heptenone, n-nonylaldehide, sineol, zingerol zingiberene, vitamin A, B,
dan C, asam organik tepung kanji, serat, sitral, allicin, alliin,
diallydisulfida, damar, glukominol, resin, geraniol, shogaol,
albizzin,zengediasetat, metilzingediol.
Senyawa Antioksidan dalam Jahe
Jahe (Zingiber officinale, Roscoe)
merupakan jenis rempah-rempah yang paling banyak digunakan dalam
berbagai resep makanan dan minuman. Secara empiris jahe biasa digunakan
masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, antipiretik,
anti-inflamasi, dan sebagai analgesik. Berbagai hasil penelitian
membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan. Beberapa komponen
bioaktif utama dalam jahe adalah : 4-diarilheptanoid, shogaol, gingerol,
dan gingeron memiliki aktivitas antioksidan di atas vitamin E.
Jahe ternyata mengandung berbagai senyawa fenolik yang dapat diekstrakdengan
pelarut organik dan menghasilkan minyak yang disebut oloeresin. Dalam
oloeresin jahe banyak terkandung senyawa fenolik seperti gingerol dan
shogaol yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi melebihi
aktivitas antioksidan vitamin E (Zakaria, 2005). Komponen dalam jahe
yaitu gingerol dan shogaol mempunyai aktifitas antirematik.
Minyak
jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah
dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada
wanita yang hamil muda. Untuk mengetahui struktur molekul gingerol dan
shogaol dapat dilihat pada Gambar 3 dan 4.
Jahe sekurangnya mengandung 19 komponen bio-aktif yang berguna bagi tubuh. Komponen yang paling utama adalah gingerol yang bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung.
Gingerol
diperkirakan juga membantu menurunkan kadar kolesterol.
Komponen-komponen pedas dari jahe seperti 6-gingerol dan 6-shogaol
dikenal memiliki aktivitas antioksidan cukup. Dari ekstrak jahe yang
telah dibuang komponen volatilnya dengan destilasi uap, maka dari fraksi
non volatilnnya setelah pemurnian ditemukan empat senyawa turunan
gingerol dan empat macam diarilheptanoid yang memiliki aktivitas
antioksidan disebut sebagai antioksidan primer. (26 Januari 2009)